H

Sabtu, 09 Februari 2013

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON pt.2

the teens arrive when the Viking fleet has already discovered the Red Death. Hiccup's classmates distract it while Hiccup attempts to free Toothless. Hiccup and Toothless almost drown, but both are saved by Stoick. Hiccup and Toothless lure the Red Death into flight, ultimately damaging its wings and the forcing it into on inescapable dive back to earth, killing it in a massive explosion. While attempting to flee from the crashing dragon, Hiccup falls and Toothless dives into the flames after him.

Stoick finds Toothless, who reveals on unconscious Hiccup safely wrapped in his wings. Hiccup safely wrapped in his wings. Hiccup wakes up back on the Berk. As he leaves his bed, he discovers part of his left has been replaced by a prosthetic leg made by Gobber. His grief turned to joy, however, as he steps outside to find the Vikings and dragons working together to rebuild their village. He is greeted by everyone, and Astrid rushes to kiss him. The film ends with the war between Vikings and Dragons finally over with Hiccup and his friends racing their dragons.

THE END
cc: Wikipedia

*************************************************************

So, how is it? Cool, right? I recommended you guys to watch this movie!
So, see you all in my next post!
:D

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON

Hi guys! It has been awhile since my last post! I'm really really sorry! :( But by the way, I want to tell a story from the "HOW TO TRAIN YOUR DRAGON" movie. This is my favorite movie and I hope that you like it too! :D ENJOY!
***********************************************

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON

The island of Berk is a Viking village that is plagued by attacks from dragons. Hiccup, the awkward son of the village chieftain, Stoick the Vast, shoots down a dragon he thinks may be a Night Fury, a rare dragon nobody has ever actually seen. Hiccup locates the dragon in the forest, but finds he is unable to kill the helpless animal. Hiccup instead cuts it free. Meanwhile, Stoick assembles a fleet to seek out the dragons' nest, but before he leaves. he places Hiccup in dragon-killing classes taught by Gobber, the village blacksmith.



Searching the forest, Hiccup finds the dragon trapped in a shallow glade, the dragon's tail was injured, preventing it from flying normally. Hiccup discovers a way to earn the dragon's trust and begins to care for it. He names the Night Fury 'Toothless', for its retractable teeth/ Later, Hiccup fashions a makeshift horness and prosthetic tail that allows him to guide the dragon free flight. Hiccup is able to transfer his knowledge of dragons to the other species of dragons at school, appering the conquer each one in battle and becoming the star pupil, much to the dismay of Astrid, a girl in dragon training on whom Hiccup has a crush and gets the chance to kill a dragon in front of the entire village. Meanwhile, the battered Viking  fleet arrives home.


Later, Astrid follows Hiccup, and is shocked to discover Toothless. She attempts to escape to tell the rest of the village, but Hiccup takes her for a ride on toothless. At first, Astrid is terrified, but then begins to enjoy the excursion, but then Toothless unexpectedly joins a flick of dragons and takes the pair straight into the dragon's nest, where they discover that the Red Death, a gigantic dragon depends on the food they bring back or else it feed on the dragons themselves. Astrid wants to tell the village of the nest, but Hiccup wants to keep it a secret to protect Toothless. Astrid agrees. Before she heads back, she punches his arm, for kidnapping her, and then kisses him on the cheek for 'everything else'.

Hiccup is put to his final exam the next day by fighting a Monstrous Nightmare, but when he tries to show the village the dragon's true nature, Stoick stops the fight, inadvertently angering the dragon and endangering Hiccup. Toothless hears Hiccup's scream and flies in to save him, but is captured himself. Hiccup, attempting to explain his actions, reveals how to find the dragons' nest. He tries to warn his father of the danger, but Stoick refuses to listen to his son, demotes Hiccup from being a Viking, disowns him, and leaves with another fleet, using a restrained Toothless as their guide. Hiccup then concocts a plan to save the Vikings.

*to be continue*

Sabtu, 08 Desember 2012

My Carelessness Is Killing ME!

     Do you know what happened to me this morning? I lost my wallet. My PRECIOUS WALLET! It's not like there were some money in there (Well, there were), but my student card was there! Arghh... I'm so careless! I forgot where I put my wallet after I got home! 
Sh*t! I hate my carelessness so much!
x-(

Sabtu, 01 Desember 2012

T-Swizzle

Hey guys! Yesterday, I found photos of Taylor Swift wearing
hockey uniforms. Arghh... I really want the hockey uniforms!
I'll upload the photos tomorrow, kay? 'Cuz the photos are in my phone, hehehehe.
Then, good night guys!

Minggu, 25 November 2012

Finish!! :)

Hey guys! Finally, my short story is completed! There are six posts about it.
Please, read it :) I hope you guys like it!
Happy reading guys!

SECOND CHANCE pt.6


Bel pulang sekolah pun berbunyi, murid-murid High Scope Senior High segera berhamburan keluar dari kelas. Doni yang tahu suasana hati Jason sedang sangat buruk, segera mengajaknya cepat-cepat meninggalkan kelas saat dilihatnya Jeselyn berjalan menghampiri bangku mereka.
Sekarang mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah Jason di daerah Puri Kembangan. Jalanan hari ini macet, dan sekali lagi karena suasana hati Jason sedang buruk, Doni yang menyetir. Selama tiga puluh menit mereka terjebak macet, mereka pun sampai di rumah Jason. Mereka langsung menuju kamar Jason yang berada di lantai dasar dekat halaman belakang.
Tanpa basa-basi, Doni langsung menodong cerita dari Jason dan Jason pun mulai bercerita dengan berat hati. Setelah selesai, Jason mendapati Doni yang tercengang karena mendengar cerita tentang hubungan Jason dan Jeselyn. “Gila tuh cewek! Kayak nggak ada cowok lain aja di dunia sampe ngejar-ngejar lu gitu!” kata Doni heran. “Makanya itu Don, gue bingung sekarang gue harus gimana karena dia sekelas sama kita,” kata Jason.
“Tapi bentar dulu deh, gue masih rada bingung. Sebenernya lu masih suka sama dia atau nggak sama sekali” tanya Doni. Jason diam sesaat lalu mendesah. “Gue juga nggak tau, Don. Kadang-kadang gue kangen dia, tapi pas inget apa yang dia lakuin ke gue, gue jadi lupa lagi sama perasaan kangen gue ke dia. Tapi ya gitu, sometimes I miss her and sometimes I don’t,” jawab Jason. “Jadi gue ambil kesimpulan... Lu belum bener-bener move on dari dia, gitu?” kata Doni, Jason hanya mengangguk lemas. Hening sesaat. Mereka tenggelam dalam lamunan mereka masing-masing.
“Jas, kenapa nggak lu coba sekali lagi sama dia. Gue rasa dia sebenernya sayang sama lu, cuman awalnya ya karena taruhan itu. Tapi gue bingung kenapa gue nggak tau tentang lu pacaran sama dia padahal kita temen sebangku?” kata Doni. “Ya karena gue nggak pernah ungkit-ungkit dia dan kita beda gedung sama dia,” jelas Jason. “Coba aja lu balikan sama dia. Everyone deserve a second chance, right?” kata Doni.
Jason terhenyak. Selama ini dia tidak pernah memikirkan tentang memeberi kesempatan ke dua pada Jeselyn. Mungkin sekarang dia bisa memberi kesempatan lagi untuk Jeselyn. Kali ini, Jason akan membalas salah satu surat yang dikirimkan oleh Jeselyn.

END


SECOND CHANCE pt.5


Bel istirahat berbunyi nyaring. Anak-anak mendesah lega tak lain Jason dan Doni. Mereka segera berjalan keluar kelas dan menempati kingdom mereka di kantin. Sebuah meja di pojok kantin yang tepat bersebelahan dengan kolam ikan.
“Oke, sekarang lu harus cerita,” todong Doni. “Cerita apaan?” Jason pura-pura tidak mengerti. “Jangan sok nggak ngerti deh lu! Udah lima tahun kita sekelas dan selalu duduk sebangku. Sekarang cerita!” tuntun Doni tegas.
Jason terdiam lama lalu dihembuskannya napas dengan berat. “Anak baru tadi, mantan gue Don,” kata Jason mulai bercerita. “Terus?” tanya Doni. “Dia selama ini, semenjak putus tepatnya. Selalu ngirimin surat permintaan maaf dan ngajak balikan ke gue. Tiap minggu malah,” jelas Jason. Doni hanya bisa diam tidak percaya. “Kalau lu nggak percaya, hari ini lu ke rumah gue dan liat semua surat-surat itu,” kata Jason. “Oke, hari ini gue ke rumah dan lu harus cerita semuanya di sana dengan sangat jelas,” kata Doni.
Saat mereka mulai menyantap makanannya, tangan putih dan sehalus porselen menyentuh bahu Jason dengan pelan. Jason menoleh dan diam saat mendapati siapa orangnya.
“Hai Jason! Lama nggak ketemu,” sapa Jeselyn ramah seperti tidak terjadi sesuatu diantara mereka. Bisa dilihat oleh Doni, Jason membalas dengan senyum yang dipaksa, “Oh, hai Jes. Kenapa pindah?” tanya Jason tanpa basa-basi. “Kayaknya lu nggak seneng banget gue pindah ke sini. Oh iya, hai,” kata Jeselyn sambil menyapa Doni. “Hai, gue Doni,” Doni memperkenalkan diri. “Gue Jeselyn. Eh gue duluan ya,” kata Jeselyn.“Haha, nggak berubah sampai sekarang,” kata Jason lebih pada dirinya sendiri namun masih bisa didengar oleh Doni.
Tak lama, bel pun berbunyi dan murid-murid kembali ke kelasnya masing-masing. Selama di kelas, Doni bisa menyadari Jeselyn diam-diam curi pandang ke arah Jason dan Jason tahu kalau dirinya sedang diperhatikan berubah menjadi sangat pendiam hari ini. Sepertinya memang ada yang salah di antara mereka berdua, pikir Doni.
►►►

SECOND CHANCE pt.4


Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB tapi Jason belum juga bangun. Mama dan papanya yang sudah siap untuk sarapan harus menunggu putra tunggal mereka siap. Tapi ini sudah lewat dari waktu sarapan mereka yang biasa. Mama Jason memanggil Mbok Darul untuk membangunkan Jason. Sebelum Mbok Darul mengetuk pintu kamar Jason, pintu kamar itu terbuka dan Jason keluar dengan pakaian seragam lengkap dan mata yang sayu seperti orang yang tidak bisa tidur.Ya, Jason semalam memang tidak bisa tidur dengan lelap padahal fisik dan mentalnya lelah.
“Pagi Mbok,” sapa Jason. Tanpa menunggu balasan, Jason msegera menuju ruang makan. Mama dan papanya sudah mulai memakan sarapan mereka. “Jason, tumben kamu bangunnya siang,” kata mamanya saat Jason duduk di hadapan mamanya. “Capek ma,” jawab Jason singkat dan segera menyantap sarapannya.
Tak lebih dari lima menit, Jason selesai sarapan dan menuju ke car port, mobilnya sudah ada di sana. Setelah memberi salam, Jason mengeluarkan mobilnya dari rumah dan menuju sekolahnya. Pagi ini jalanan cukup senggang, hanya dibutuhkan dua puluh menit untuk bisa sampai di sekolahnya.
►►►
Kelas XI-2 IPA baru berisi beberapa orang. Jelas saja, hampir seluruh murid di kelas itu mengikuti acara hiking kemarin. Jason duduk di tempat biasa, kursi ke tiga dari meja guru dan barisan ke tiga dari pintu.
“Tumben gue lebih pagi daripada lu, biasanya lu udah stand by duluan di sini,” teriak Jason pada Doni yang baru saja memasuki kelas dengan bagian bawah mata yang hitam sama seperti Jason. “Capek bro! Emang lu nggak capek? Ahh.. lupa, lu kan emang suka hiking dari dulu jadi abaikan aja ucapan gue barusan,” kata Doni sambil menuju tempat duduk di sebelah Jason. Jason dan Doni sudah lima tahun menjadi teman sekelas, dan sudah lima tahun pula mereka duduk sebangku.
“Katanya ada anak baru lho, Jas,” kata Doni sambil mengeluarkan botol minumnya, “Oya? Tahu dari mana lo?” tanya Jason. “Denger-denger aja sih,” jawab Doni. Tak lama kemudian bel berbunyi tanda pelajaran akan dimulai. Pak Yogi, wali kelas dan guru matematika kelas XI-2 IPA, memasuki ruangan. “Pagi anak-anak,” sapa Pak Yogi. “Pagi Pak,” jawab murid XI-2 IPA serempak. “Pagi hari ini kita kedatangan murid baru. Jeselyn Monalisa,” Pak Yogi memperkenalkan. Doni, yang duduk di sebelah Jason dapat melihat dengan jelas bagaimana air muka Jason berubah menjadi tegang. “Kenapa Jas?” bisik Doni. Jason diam. Dia masih memperhatikan anak baru yang memasuki ruangan.
“Jeselyn, perkenalkan nama mu pada teman-teman baru mu,” suruh Pak Yogi. Jeselyn mengangguk. “Halo, nama saya Jeselyn Monalisa. Saya pindahan dari SMA Labschool. Kalian bisa manggil aku Jessy or anything you like. Salam kenal semuanya,” Jeselyn memperkenalkan diri. “Oke. Sekarang kamu duduk di sebelah Retno,” kata Pak Yogi pada Jeselyn. Retno, yang duduk di barisan paling belakang di baris ke dua dari pintu, mengangkat tangan mengajak Jeselyn duduk di sebelahnya.
Saat melewati bangku Jason, Jeselyn tersenyum ke arahnya namun dihiraukan oleh Jason. Doni yang melihat kejadian tersebut bingung dengan reaksi Jason. Tidak biasanya Jason tidak membalas senyum dari siapa pun. Dan tingkah lakunya itu juga menjadi nilai tambah untuk Jason. Tapi kejadian tadi, membuatnya berpikir.
“Baik anak-anak, kalian boleh berkenalan lebih jauh dengan Jeselyn saat jam istirahat. Sekarang buku buku cetak kalian halaman dua puluh,” perintah Pak Yogi. Setelah menjelaskan materi, Pak Yogi menyuruh murid kelas XI-2 IPA mengerjakan soal.
“Jas, lu kenapa?” tanya Doni dalam bisik. Jason diam. Matanya tertuju pada buku tapi jelas pikirannya tidak tertuju pada buku itu. “Jason,” panggil Doni sambil menyikut tangan Jason. “Eh iya?” kata Jason tersadar dari lamunan. “Lu kenapa?” bisik Doni. “Nggak napa-napa. Emang gue kenapa?” bisik Jason. “Pokoknya lu istirahat temenin gue ke kantin dan lu harus cerita sama gue apa yang terjadi,” tuntuk Doni.
“Pak Doni, Pak Jason, kalian sudah selesai?” tegur Pak Yogi. “Belum pak,” jawab Doni. “Kalau begitu kerjakan, jangan ngobrol,” kata Pak Yogi tegas. Jason dan Doni mengangguk mengerti.
►►►